Kekerasan Terhadap Perempuan

Posted By on Nov 2, 2016


Tindak kekerasan dalam masyarakat terutama yang terjadi pada perempuan sudah ada sejak dulu, bahkan korban-korban semakin meningkat.

Namun sulit jika kita ingin membuka seberapa banyak tindak kekerasan perempuan yang dalam hal ini isteri dimana kekerasan terjadi dalam ruang lingkup rumah tangga. Seringkali kekerasan ini disebut hidden crime (kejahatan yang tersembunyi). Disebut demikian, karena baik pelaku maupun korban berusaha untuk merahasiakan perbuatan tersebut dari pandangan publik. Kadang juga disebut domestic violence (kekerasan domestik), karena terjadinya kekerasan di ranah domestik.

Keadaan yang sulit diteliti ini diakibatkan karena masalah kekerasan dalam rumah tangga masih dianggap tabu untuk diungkapkan. Banyak isteri yang tidak melaporkan tindak kekerasan yang dialaminya, bahkan menutupi masalah ini, karena takut dicemoohkan oleh masyarakat maupun keluarga sendiri.

Masalah yang dialami perempuan di dunia ketiga, atau dunia yang dijadikan tempat tinggal adalah negara-negara yang mempunyai pengalaman keterjajahan (baca: kolonisasi) yang terekpos kondisi masa lalu mereka dengan segala tatanan feodal dan patriarchal. Hingga membuat perempuan bersikap diam karena budaya yang sudah terpateri berabad-abad, Indonesia yang salah satunya negara dunia ketiga menjadikan isteri bersikap patuh, mengabdi dan tunduk kepada suami.

Tindak kekerasan terhadap perempuan yang dapat diibaratkan seperti gunung es dimana yang muncul ke permukaan hanya sebagian kecil saja, sedangkan bagian yang lebih besar masih tenggelam atau tidak dapat diketahui.  Banyak korban yang tidak terbuka dengan tindak kekerasan yang dialaminya. Mereka cenderung berdiam diri, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:

  1. Adanya budaya yang masih kental dalam masyarakat bahwa urusan rumah tangga jangan sampai diketahui oleh orang lain, meskipun keluarga sendiri,
  2. Seringkali pihak perempuanlah yang dituduh sebagai pemicu terjadinya tindak kekerasan,
  3. Masyarakat cenderung tidak mau tahu urusan rumah tangga orang lain. (Hasil penelitian Ruang Pelayanan Khusus (RPK) Polresta Malang tahun 2006)

Problematika kekerasan terhadap perempuan terutama yang dialami oleh isteri semakin bertambah akut dan yang demikian harus menjadi masalah sosial bersama untuk diselesaikan. Para legislator yang berfungsi membuat undang-undang diharapkan peka sosial atas penindasan dan penderitan yang dialami oleh kaum perempuan.